Selasa, 09 Agustus 2011

Atsushi Nakazawa



Namanya Atsushi Nakazawa, chara ketiga yang diciptakan oleh gue. Anak ini adalah anak kedua dari lima bersaudara yang kesemuanya tidak memiliki hubungan darah. Sifatnya tenang, sabar, terlalu pasif, 'menerima', dan selalu menyembunyikan perasaannya sendiri.

Anak ini selalu membuat gue sedih. Dengan semuanya yang selalu gue lakukan untuk dia. Dengan cintanya yang akan hilang(yang nanti akan mati meninggalkannya patah hati dan tetap selibat), dengan mimpinya yang mungkin tidak akan tercapai(memiliki satu keluarga utuh miliknya sendiri), dengan keluarganya (adik-adik dan kakaknya yang entah kenapa selalu membuatnya merasa jauh dengan mereka), dan dengan dirinya sendiri; bagaimana dia selalu tidak pernah bisa menjadi lebih dari dirinya yang sekarang.

Lalu, yang paling dan terlalu menyedihkan, bagaimana dia menghadapi semuanya dengan senyuman. Seakan menantang saya untuk menjadi lebih kejam padanya.

Padahal saya begitu sayang dengannya. Sangat. Tapi.... entahlah.

Selasa, 27 April 2010

teruntuk..

...Kita berkumpul bersama bernyanyi dan menari
Ada canda ada tawa, sukaria dan gembira, di dalam hati kita..

[Lagu TO, SMA Labschool]

aku mengutip itu bukan karena itu adalah gambaran kita setiap saat. Tapi kutipan itu lebih berarti daripada hanya 'itu' karena memang begitulah kita. Tidak ada menari, memang, hal itu sangat jarang dilakukan.

Tapi bernyanyi? tertawa? bercanda? tidakkah kita gembira?

Memang tidak selalu gembira. Ada kepedihan disitu, rasa penat, putus asa, isak tangis, tapi kita selalu tersenyum, pada akhirnya.

Aku bukan seseorang yang selalu 'ada' untuk kelas ini. Aku tidak termasuk salah satu yang selalu berinisiatif menjadikan kelas ini akrab satu dan lainnya. Tapi aku adalah bagian dari kebahagiaan ini. Menjadi sulit melepasnya. Karena ikatannya dalam dan membuatku nyaris terbelit, usang.

Banyak yang ingin kulakukan dengan kalian, lebih banyak lagi yang ingin kukatakan. Tapi toh ada saatnya perjalanan kita berakhir. Kita menjalani banyak hal dan kita mengalami banyak hal. Namun sesuatu harus berhenti sebelum memulai sesuatu yang lain.

Akselerasi, dua belas IPA 5, apapun nama kita (even MAKSIM), kita satu. Satu arah, satu tujuan, dan satu.

--Tyas, absen 4 Kelas Akselerasi angkatan 11 SMA Labschool Jakarta--

Sabtu, 03 April 2010

TRUTH OR DARE

Dengan post ini, saya mengakui si Bia mengungguli saya, *walopun ga ngerti dia unggul dimana* =))

Kamis, 11 Februari 2010

Untuk apa ini?
Kelakar kecil diujung pagi
Aku ingin gila
BIar saat kau siksa, aku tak merasa

Ada apa ini?
Pelitur kecil di ujung jari
Mencoba membenarkan
Setelah dengan anggun kau patahkan

Berulangkali kau bilang aku yang salah
Sejuta kali kuucapkan maaf
Namun tak satupun kau dengar

Lalu untuk apa maafku?
Sekedar pemuas dahagamu?
Atau kesia-siaan yang kau cinta?
Biar sia-sia hidupku selamanya

Apa kau peduli?
Tidak usah kau jawab
Aku tahu pasti reaksimu
Akan kau tatap aku dengan remeh

Aku cinta kau
Dulu
Panggil aku patetik
Selalu

-01022010

Jumat, 29 Januari 2010

:3

Fuyu, di mana kau? Apakah kau bisa merasakanku? Aku tersungkur di sini. Memikirkanmu tiap kali. Detik terus berlalu Fuyu, tapi aku tetap tidak bisa melupakanmu. Bagaimana denganmu? Masihkah tak terjamah? Atau kau mulai kelabu?

Aku butuh engkau di sini. Sekedar pemangku hati yang mulai bernyayi. Merintih, perih. Bahkan tanganku mulai tak terasa, padahal aku hanya bisa berbicara lewat nada. Apa aku harus meledak? Biar kutemukan dirimu saat aku jadi abu.

Masih terbayang senyummu yang ceria. Tumpuan kala bintang tak lagi bisa kupuja. Apa harus aku menunggu musim dingin? Biar merah darahku tertetes di salju yang putih. Apa yang harus kulakukan Fuyu? Beritahu aku! Biar tak sia-sia kulit ini kubuka, biar tak merana kala darah ini tercecer. Biar aku, bisa menatapmu. Sekali lagi.

-satu catatan penuh makna untuk Bia.
25.01.10

mencoba

Aku bersembunyi
Dalam bilik kecil berteman sunyi
Aku berdoa
Dalam luasnya cakrawala

Aku mengalah
Dalam cinta tak terpapah
lalu aku berhenti
Dalam keagungan sejati

Kemana dunia saat kucoba memuja?
Keheningan menghentikan seluruh waktu yang mencinta
Titik embun menetes mungil di daun
Lalu dimana cinta yang mengaku anggun?

Merana tak terkira
Terluka hingga tiada
Aku terpuruk!
Meronta-ronta, sasaran empuk

Aku mencoba pergi
Berhenti lagi di malam sepi
Katamu cinta tak berpamrih
Tapi di sini aku, berteman perih

-coretan saat stuck di Try Out bahasa Indonesia
25.01.10

Selasa, 19 Januari 2010

:|a

Apabila aku berkata, “aku kecewa.” Apa kau akan ada disini untuk mendengar?
Jika aku benar bertanya, “apa aku diinginkan?” Apa kau akan menjawab?
Kalau saja cangkirku tidak kosong hari ini, maukah kau datang dan menyapaku?

Napasku sesak malam ini.
Dan belati rasanya dingin diantara batas nadi
Kecantikan tiada tara tidak pernah tampak berharga
Karena bukan engkau yang meminta

Kepakkan sayap, jejakkan kaki
Hembuskan napas, tenangkan jari
Aku membara, layaknya api yang bersuara
Lalu untuk apa aku disini?

Bus malam, pesawat pertama, kereta uap dan kuda
Kendaraan berlalu lalang menyebabkan keramaian
Namun apa yang terjadi dengan segala rasa kesendirian ini?

Menyayangi tidak sama dengan mencinta
Karena sayang tidak pernah bisa bergelora
Lalu kenapa kau selalu menyangkal dan menghindar?

Cantik itu sebuah relativitas, rumus fisika dan segala anteknya
Lalu apa rasa juga adalah relatif?
Omong kosong menjijikan, dan dunia sudah pasti turun tangan.


-suatu ketikan dengan pikiran kosong saat pelajaran Kimia